Menlu, Sugiono. (Photo: ist).
Jakarta, Berita Rakyat Sumatera – Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa dukungan politik terhadap Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan, di tengah meningkatnya tekanan politik dan keuangan yang mengancam keberlangsungan badan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Menlu Sugiono dalam Pertemuan Tingkat Menteri Tahunan tentang UNRWA yang digelar di sela Sidang ke-80 Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Kamis (25/9).
“Dukungan politik bukanlah opsi, tetapi keharusan, terutama dalam hal perpanjangan mandat UNRWA,” tegas Sugiono.
Ia menekankan, kehadiran Indonesia pada forum tersebut dimaksudkan untuk menegaskan dukungan yang tidak tergoyahkan terhadap UNRWA. Menurutnya, pekerjaan UNRWA tidak hanya vital, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi jutaan pengungsi Palestina.
Sugiono menyebut UNRWA adalah bagian yang tak terpisahkan dari multilateralisme. Namun, lembaga itu kini menghadapi tantangan besar berupa tekanan politik, kekurangan pendanaan, hingga upaya pelemahan, penghapusan, bahkan pembubaran.
Secara politik, lanjutnya, Israel berupaya menghalangi operasional UNRWA melalui pelarangan aktivitas di wilayah Palestina yang diduduki serta penghentian perjanjian tahun 1967, yang sebelumnya memberikan hak istimewa dan kekebalan bagi staf UNRWA.
Dari sisi pendanaan, UNRWA juga terpukul akibat berkurangnya dukungan dari sejumlah negara donor. Mengingat sumber pendanaan UNRWA sebagian besar berasal dari kontribusi sukarela, kondisi ini membuat operasional badan tersebut terancam.
Indonesia, kata Sugiono, juga menyoroti UN Aid Initiatives dari Sekretaris Jenderal PBB, khususnya Workstream 3 yang memuat proposal restrukturisasi program bantuan kemanusiaan di seluruh badan PBB. Ia menegaskan pentingnya memastikan agar proses tersebut tidak mengurangi atau mengubah mandat UNRWA, terutama perannya dalam melindungi hak-hak pengungsi Palestina.
“Pendanaan yang berkelanjutan dan dapat diprediksi adalah nadi operasi UNRWA. Indonesia tetap berkomitmen mendukung UNRWA, baik melalui kontribusi pemerintah maupun jalur inovatif lainnya,” ujarnya.
Saat ini, operasional penuh UNRWA diperkirakan hanya dapat berlangsung hingga akhir September 2025. Mulai November, badan ini bahkan diproyeksikan hanya mampu beroperasi dua hari dalam sepekan.
Sebagai bentuk komitmen, Indonesia telah meningkatkan dukungan pendanaan sejak 2024, baik melalui kontribusi sukarela, kerja sama BAZNAS dengan UNRWA, maupun penggalangan bantuan dari berbagai pihak. (mhn/bbs)