Provinsi Lampung berkomitmen memperkuat pengembangan energi hijau. (Photo: ist).
Bandar Lampung, Berita Rakyat Sumatera – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam memperkuat pengembangan energi hijau dan berkelanjutan melalui optimalisasi berbagai sumber energi terbarukan yang dimiliki daerah tersebut.
“Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah yang didorong pemerintah pusat untuk mengembangkan sustainable energy, karena Lampung memiliki beragam sumber energi hijau,” ujar Rahmat Mirzani Djausal saat membuka Lampung Economic Investment Forum, yang digelar secara daring di Bandarlampung, Selasa (4/11/2025).
Menurutnya, salah satu sumber energi hijau yang telah dikelola adalah green hydrogen berbasis panas bumi di Ulubelu, yang telah diresmikan dan menjadi bagian dari masa depan energi Lampung.
Selain itu, Pemprov Lampung juga tengah mendorong pengembangan bioethanol, mengingat ketersediaan bahan baku melimpah seperti ubi kayu, jagung, dan molase.
“Saat ini sudah ada dua hingga tiga industri yang bergerak di bidang ethanol, dan ke depan akan semakin banyak perusahaan yang mengembangkan potensi ini di Lampung,” ujarnya.
Rahmat menambahkan, Lampung juga memiliki potensi energi angin (wind turbine) yang baru-baru ini disepakati untuk dikembangkan melalui kerja sama investasi antara Pemerintah Provinsi Lampung dan PT Bakrie Power. Kerja sama tersebut akan berfokus pada pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di wilayah provinsi itu.
“Langkah ini menjadi sinyal kuat atas komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat sektor energi hijau, sejalan dengan agenda transisi energi dan pembangunan ekonomi berkelanjutan,” katanya.
Lebih lanjut, Gubernur menyebutkan bahwa terdapat tiga bendungan besar di Lampung yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber energi mikrohidro, yakni Bendungan Batutegi (1.700 hektare), Bendungan Margatiga (1.900 hektare), dan Bendungan Sekampung (800 hektare).
“Ketiganya juga berpotensi dikembangkan sebagai floating solar panel, karena lokasinya berdekatan dengan jaringan transmisi listrik,” tambahnya.
Rahmat mengungkapkan, Lampung saat ini masih mengalami defisit energi sekitar 300 megawatt dari kebutuhan total 1.200 megawatt, dengan pasokan baru mencapai 800 megawatt. Kebutuhan energi terus meningkat sekitar 3–5 persen per tahun, terutama seiring rencana pengembangan sektor industri di daerah tersebut.
Berdasarkan data Bappeda Provinsi Lampung, potensi energi baru terbarukan (EBT) di provinsi ini cukup melimpah, meliputi: