Gubernur Sumbar, Mahyeldi. (Photo: ist).
Padang, Berita Rakyat Sumatera – Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi menegaskan bahwa wakaf merupakan salah satu solusi strategis untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di daerah.
“Wakaf harus dioptimalkan sebagai instrumen pembangunan berkelanjutan yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat,” ujar Mahyeldi di Padang, Selasa (11/11/2025).
Ia menjelaskan, ada beberapa langkah strategis yang akan menjadi fokus Pemerintah Provinsi Sumbar dalam memperkuat pengelolaan wakaf produktif di Ranah Minang.
Pertama, penguatan ekonomi umat. Mahyeldi menilai wakaf tidak boleh hanya dipahami sebagai amal ibadah semata, melainkan juga sebagai solusi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Jika dikelola secara profesional, wakaf dapat menjadi kekuatan ekonomi baru dan mengurangi kesenjangan sosial,” ujarnya.
Kedua, penciptaan gerakan nyata melalui Konferensi Wakaf Internasional yang akan digelar di Padang pada 15–16 November 2025. Acara ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan ekonomi umat.
Konferensi Wakaf Internasional 2025 mengusung tema “Wakaf untuk Pembangunan Berkelanjutan” dan akan dihadiri oleh ulama, akademisi, serta tokoh dari berbagai negara, termasuk Mesir, Maroko, dan Arab Saudi.
Mahyeldi berharap kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat posisi Sumbar di kancah internasional, tetapi juga melahirkan rekomendasi strategis yang aplikatif untuk pengembangan ekosistem wakaf global.
“Semoga hasil konferensi nantinya tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi mampu melahirkan langkah konkret yang berdampak langsung pada masyarakat,” harapnya.
Ketiga, menjadikan Sumbar sebagai pusat percontohan wakaf produktif. Pemprov Sumbar berkomitmen menjadikan daerah ini sebagai contoh keberhasilan pengelolaan wakaf yang modern, transparan, dan berdaya guna di tingkat nasional maupun internasional.
Keempat, peningkatan literasi wakaf. Menurut Gubernur, masyarakat perlu terus diberikan pemahaman tentang pentingnya wakaf produktif, mengingat masih banyak aset wakaf di daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Wakaf pada dasarnya perlu dikelola secara produktif agar benar-benar memberi manfaat bagi umat,” tegas Mahyeldi. (mhn/bbs)