Categories: Berita Nasional

Transformasi Masyarakat Muslim Pasca Pandemi

Palembang, Berita Rakyat Sumatera – Corona virus disease 2019, merupakan suatu pandemic yang melanda seluruh dunia dimana penyakit ini meyerang organ pernafasan. Corona virus di temukan pertama kalo di Indonesia pada tanggal 2 maret 2020,dari 2 orang yang terinfeksi dari orang jepang. Tidak butuh waktu lama beberapa hari kemudian wabah ini sudah menyebar hampir keseluruh provinsi di Indonesia. Menyebabkan beberapa hal terhambat seperti sekolah yang dipaksa libur,kerja yang harus dari rumah ,dan Ibadah muslim yang awalnya harus di masjid harus dipaksa untuk mengerjakannya di rumah.

Selama masa pandemi ketika seseorang ingin melaksanakan shalat di masjid mereka harus menjaga jarak minimal satu meter dan memakai masker serta mereka tidak diperbolehkan kontak fisik secara langsung seperti berjabat tangan.

Setelah satu tahun korona datang di Indonesia, mungkin sekarang umat muslim sedikit berbahagia sebab beberapa masjid sudah kembali ramai jamaah,dan sudah ada juga beberapa masjid yang sudah menyelenggarakan majelis ilmu ataupun tabligh akbar, tetapi Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengimbau tata ibadah tetap mengacu pada protokol kesehatan (prokes) seperti memakai masker.

Related Post

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Dakwah Cholil Nafis tak mempersoalkan jika umat Islam merapatkan saf atau barisan salatnya ketika berjemaah di masjid khusus untuk wilayah berstatus Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1.

Hal itu ia sampaikan merespons banyaknya pertanyaan terkait kapan umat Islam dapat merapatkan saf salatnya kembali ketika menjalani salat berjemaah di masjid.

“Kalau sudah level 1 dan menurut Satgas sudah aman ya silakan dirapatkan safnya dan tetap gunakan masker,” kata Cholil.

Dari apa yang saya lihat langsung di lapangan setelah di izinkan nya perapatan shaf warga mulai berani untuk shalat di masjid dan jumlah jamaah sudah mulai stabil tetapi ada juga beberapa masyarakat yang masih takut untuk datang kemasjid dikarenkan masih takut dengan penyebaran virus corona ini.

Diketahui, umat Islam selama melakukan ibadah salat berjemaah di tengah pandemi virus corona belakangan ini diatur dengan saf yang berjarak. Hal itu sebagai bentuk ikhtiar jaga jarak atau phisical distancing sesuai protokol kesehatan guna menghindari penularan corona.

Harus Tetap Menjaga Protokol Kesehatan dan Waspad

“Walaupun ketua MUI bidang dakwah cholil nafis sudah memperbolehkan untuk merapatkan saya rasa kita harus masih tetap mematuhi standar protokol kesehatan seperti kita harus memakai masker dan membawa peralatan sholat sendiri”

Sejumlah ketentuan yang menjadi protokol kesehatan Covid-19 di rumah ibadah antara lain:

Pembersihan dan disinfeksi secara berkala di area rumah ibadah. Penyediaan fasilitas sabun cuci tangan Penerapan protokol kesehatan secara khusus bagi jemaah dari luar lingkungan rumah ibadah. Memakai masker.

Membawa peralatan ibadah sendiri dari rumah dapun hal ini dilakukan adalah dalam bentuk untuk mengurangi penyebaran covid-19 terus bertambah di Indonesia. Selain menerapakan protokol kesehatan yang ketat, warga diminta untuk meningkatkan sistem imun. Seperti diketahui, virus corona penyebab COVID-19 menyerang sistem imun tubuh yang lemah.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan sistem imun tubuh, seperti melakukan olahraga, tidur cukup, dan mengonsumsi makanan dan minuman sehat.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Transformasi Masyarakat Muslim pasca pandemi tidak terlalu berubah ,tetapi untuk jamaah masih kurang seperti sebelum pandemi dikarenakan masyarakat masih takut terkena penyebaran covid-19,dan sekarang juga masjid sudah menerapkan perapatan shaf dan melakukan protokol kesehatan seperti menyuruh jamaah untuk memakai masker dan membawa peralatan shalat sendiri dari rumah masing-masing. (ojn/bbs)