Palembang, Berita Rakyat Sumatera – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Provinsi Sumatera Selatan secara kumulatif mengalami perlambatan atau terkontraksi 1,21 persen (yoy) pada 2020 atau anjlok jika dibandingkan 2019 yang membukukan sebesar 5,69 persen.
“Sumsel mengalami pertumbuhan minus karena sejumlah lapangan usaha mengalami kontraksi akibat pandemi COVID-19,” kata Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih di keterangan pers secara virtual di Palembang, Jumat.
Kontraksi terjadi pada beberapa sektor usaha, yakni penyedia akomodasi makan minum, transportasi dan pergudangan, pertambangan penggalian, jasa perusahaan, perdagangan, jasa pendidikan dan kontruksi.
Sementara itu yang mengalami pertumbuhan positif yakni sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Selain itu, terkait adanya COVID-19 membuat tiga sektor melejit yakni informasi, komunikasi, kesehatan.
“Pertanian yang memang survive selama pandemi tahun lalu. Bukan hanya produksi beras, tapi juga tanaman hortikultura, terutama obat-obatan,” kata dia.
Sepanjang triwulan I hingga triwulan III tahun 2020, sektor pertanian selalu tumbuh positif. Hanya di triwulan IV saja yang menurun lantaran dipengaruhi oleh cuaca sehingga berimbas juga pada penurunan harga gabah.
Lantaran adanya pertumbuhan sektor pertanian, perhutanan dan perikanan tersebut membuat perekonomian Sumsel dapat bertahan di tengah pandemi.
Jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara nasional yang terkontraksi 2,07 persen, maka sejatinya Sumsel bisa lebih baik.
Sebelum terdampak COVID-19, Sumsel masih mencatat pertumbuhan positif pada triwulan I 2020 yakni 4,98 persen (yoy), kemudian pada triwulan II 2020 terkontraksi 1,53 persen (yoy). Lalu pada triwulan III 2020 terjadi ekonomi daerah berpenduduk 8 juta jiwa ini mengalami perbaikan sedikit menjadi minus 1,4 persen (yoy).
Ekonomi Sumsel tahun 2020 hanya mengalami kontraksi 0,11 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami kontraksi tertinggi sebesar 7,21 persen. Sementara dari sisi pengeluaran disebabkan oleh komponen pengeluaran konsumsi pemerintah yang mengalami kontraksi sebesar 12,86 persen.
Jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2020 terhadap triwulan IV-2019 (yoy) mengalami kontraksi sebesar 1,21 persen. Dari sisi produksi, kontraksi terbesar terjadi pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 8,70 persen. Sementara dari sisi pengeluaran disebabkan rendahnya serapan anggaran pemerintah yang terkontraksi sebesar 23,18 persen.
Ekonomi Provinsi Sumatra Selatan tetap terkontraksi jika dibandingkan triwulan IV-2020 terhadap triwulan III-2020 (q-to-q) sebesar 2,78 persen. Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh faktor musiman pada lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan yang mengalami kontraksi sebesar 14,11 persen. Sementara dari sisi pengeluaran disebabkan komponen pengeluaran konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) yang mengalami kontraksi sebesar 2,50 persen, serta perlambatan pertumbuhan komponen PMTB dan ekspor luar negeri.
Sepanjang 2020, perekonomian Sumsel berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2020 mencapai Rp458,43 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 315,14 triliun. (icn/bbs)