(Di tengah) Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru. (Photo: ist).
//Gubernur Herman Deru: Covid-19 Kita Lawan Bersama, Ekonomi Rakyat Harus Tumbuh
//Kepala BI Perwakilan Sumsel: Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Terbaik di Sumatera 3,25 Persen , dan Lebih Tinggi Rata-Rata Nasional 2,97 Persen
PALEMBANG, Berita Rakyat Sumatera – Di tengah badai Coronavirus Covid-19 melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia, pada 34 Provinsi tidak ada satu daerah pun yang lolos dari serangan Covid-19.
Presiden berkonsentrasi penuh menangani pencegahan penyebaran Covid-19, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo sudah mengatakan bahwa warga berusia 45 tahun ke bawah diperbolehkan bekerja agar ekonomi rakyat tetap berjalan. Sebab, usia 45 tahun ke bawah lebih kuat dari Coronavirus. Berbeda dengan usia 45 tahun ke atas sangat rentan tertular virus yang berasal dari Wuhan, China itu.
Presiden meminta semua kepala daerah tidak hanya menekan persebaran Coronavirus Covid-19, tetapi juga memperhatikan ekonomi rakyat akibat terdampak badai Covid-19. Secara nasional semua Menteri atau Pejabat setingkat menteri bersama-sama perang melawan Covid-19. Begitu pula para Kepala Daerah semua konsentrasi melawan Covid-19.
Di Pulau Sumatera, Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, terus melakukan pencegahan terhadap Coronavirus Covid-19. Namun, tak hanya konsentrasi penanganan Covid-19, Gubernur Sumsel Herman Deru juga konsentrasi memperhatikan ekonomi kerakyatan. “Iya, kita tetap memperhatikan ekonomi rakyat. Covid-19 ini menjadi musuh bersama. Kita konsentrasi penuh. Tetapi, kita juga tetap memperhatikan pertumbuhan ekonomi,” kata Gubernur Herman Deru dibincangi Berita Rakyat Sumatera.
Pertumbuhan ekonomi yang menjadi konsentrasi Herman Deru, ialah semua sektor perekonomian masyarakat, termasuk sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan. “Semua sektor kita perhatikan. Alhamdulillah, hasil kerja keras kita semua, Pemerintah Kabupaten/Kota dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan beserta seluruh masyarakat. Kita mobile setiap saat memantau langsung berdampak baik bagi ekonomi kerakyatan. Itu pula yang membuat indeks pertumbuhan ekonomi di Sumsel menjadi terbaik,” kata Herman Deru lantas tersenyum.
Terkait prestasi pertumbuhan ekonomi Sumsel terbaik, bahkan terbaik di Pulau Sumatera, dikemukan oleh Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Selatan, Hari Widodo.
Menurut Hari Widodo, sesuai yang dilaporkannya ke Gubernur Sumsel H. Herman Deru (HD), pertumbuhan ekonomi Sumsel menjadi yang tertinggi di regional Sumatera saat ini. Catatan tersebut sesuai prediksi pihaknya, bahwa ekonomi Sumsel tumbuh 4,98 persen.
Dilansir tim Gubernur, pada triwulan IV pertumbuhan ekonomi Sumsel sebesar 5,69 persen dan keseluruhan tahun 2019 pertumbuhan ekonomi 5,71 persen. Kemudian di kuartal I 2020 itu tumbuh 4,98 persen, artinya terjadi penurunan meskipun penurunannya belum begitu tajam.
“Karena apa? dampak Covid baru terasa di bulan Maret sehingga masih ada bulan Januari dan Februari. Nah inilah mengapa kemudian pertumbuhan ekonomi di triwualan 1 ini relatif tinggi untuk Sumsel. Ada perlambatan pertumbuhan sedikit tapi kalau kita bandingkan dengan provinsi lain kita masih termasuk yang tertinggi,” jelas Hari.
Pertumbuhan ekonomi Sumsel menjadi yang tertinggi karena pertumbuhan ekonomi regional Sumatera sebesar 3,25 persen, sementara untuk nasional 2,97 persen. Dengan catatan pertumbuhan itu menjadikan Sumsel pertumbuhan ekonomi Sumsel tertinggi di regional Sumatera dan diatas rata rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Jika dilihat sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari sisi lapangan usahanya, untuk triwulan I 2020 berasal dari industri pengolahan, selain itu disusul industri pertambangan dan penggalian baru kemudian pertanian dan kehutanan serta perikanan.
Hal ini, kata Hari, berkebalikan dengan kontributor utama pertumbuhan ekonomi sampai triwulan IV 2019, biasanya yang menempati urutan pertama adalah pertambangan dan penggalian.
“Kali ini agak bertukar tempat yang pertama adalah pengolahan kedua pertambangan dan penggalian, itu dari sisi sumber lapangan usaha,” jelasnya lagi.
Dilanjutkan, jika bicara dari sisi pengeluaran, ada sisi konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor dan impor serta konsumsi pemerintah. Konsumsi rumah tangga masih menduduki peringkat pertama sekitar 60 persen dari PDRB yang dibentuk dari konsumsi rumah tangga. Oleh karena itu penting saat ini mempertahankan konsumsi rumah tangga di Sumsel meskipun dalam kondisi di tengah wabah Covid.
“Salah satu kebijakan yang menurut saya sudah tepat dilakukan Pemprov Sumsel yang meliputi kab/kota mengeluarkan kebijakan stimulus fiskal yaitu perkuat jaring pengaman sosial. Nah mengapa demikian karena jaring pengaman sosial ini akan berfungsi untuk mempertahankan konsumsi di level masyarakat yang terdampak Covid. Misalnya pekerja informal tidak bisa jualan atau buka lapangan usaha atau mereka yang dirumahkan atau PHK. Nah jaringan pengaman sosial ini penting agar mereka tetap melakukan konsumsi dalam bentuk bantuan sosial pangan atau lainnya pada masyarakat,” ungkapnya.
Selain itu kebijakan Provinsi Sumsel meliputi kab/kota yang meng alokasikan sekitar Rp952 miliar atau hampir Rp 1 triliun untuk penanggulangan masa covid ini adalah kebijakan yang tepat. Karena menurutnya kondisi yang tidak biasa ini memang memerlukan kebijakan yang tidak biasa juga.
“Oleh karena itu alokasi dana anggaran untuk Covid ini sudah tepat,” tegas Hari.
Selain itu, untuk menghadapi kondisi ini tidak dapat dilakukan pemerintah saja, namun perlu peran masyarakat bersama untuk bisa mendukung ekonomi.
Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah dengan menggiatkan solidaritas, karena ini penting di samping bantuan jaring pengaman sosial. Bantuan yang bisa dilakukan adalah berbentuk sumbangan dari masyarakat dalam bentuk donasi dari komunitas atau individu yang dapat membantu masyarakat agar dapat bertahan di tengah ekonomi yang memang sedang sulit seperti ini.
“Itu bagian dari solidaritas yang harus kita bangun agar pemerintah bersama seluruh masyarakat dapat menanggulangi Covid bersama-sama. Itu dari sisi pertumbuhan ekonomi. Kita juga masih harus sadari bahwa di triwulan berikutnya, kita akan alami penurunan yang cukup tajam karena praktis akan terdampak dari konsumsi rumah tangga. Misalnya invetasi mungkin para investor akan wait and see menunggu dan beberapa kegiatan ekonomi harus dihentikan. Inilah mengapa perlu kita sadari bersama sinergi semua pihak penting dalam kondisi seperti ini,” tegas Hari.
Namun demikian lanjutnya tidak perlu semua saling menyalahkan dan terpenting untuk menghadapi kondisi ini adalah semua harus slaing menguatkan, bekerjasama, solidaritas sosial masyarakat ditingkatkan agar masyarakat terdampak Covid terbantu. Selain itu Hari juga mengajak masyarakat mensuyukuri bahwa dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera 4,98 persen namun laju inflasi relatif terkendali.
“Meskipun untuk laju inflasi bukan yang terendah di Sumatera, kalau pert ekonomi tinggi dengan inflasi 2,48 persen year on year masih wajar dan relatif rendah. Di 2020 ini khususnya di bulan April kita alami deflasi padahal melihat pola historis dari tahun-tahun sebelumnya biasanya jelang Ramadan dan hari besar keagamaan naik tapi kemarin justru deflasi . Dan kalaupun Mei terjadi inflasi tidak akan besar sebab dari sisi pasokan cukup dan tekanan permintaan berkurang. Dan permintaan berkurang karena pembatasan kegiatan ekonomi,” ujarnya.
Terkait catatat pertumbuhan ekonomi Sumsel yang merajai Sumatera ini, Gubernur Sumsel H.Herman Deru mengatakan bahwa ini adalah prestasi sangat membanggakan bukan hanya untuk dirinya sebagai kepala daerah tapi juga masyarakat Sumsel.
“Alhamdulillah kita berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera. Artinya kerja keras kita semua dihargai. Apalagi saat ini dalam masa pandemi Covid, makanya selalu saya tekankan kita tidak boleh panik menghadapi pandemi ini. Tapi kita juga tidak boleh lengah, dan kita berhasil membuktikan itu menjadi yang terbaik di Sumatera. Ini berkat perjuangan kita semua,” ujar Herman Deru tetap rendah hati.(eddy/asm/ray/rel)