Categories: Berita SumselHeadline

Dokter, Perawat, Bidan, Petugas Ambulance Gruduk DPRD Ogan Ilir

//Direktur RSUD: Tenaga Medis yang Demo itu Ketakutan 

//Febuar Rachman: Jika Tenaga Medis Demo Patut Untuk di Dalami 

Palembang, Berita Rakyat Sumatera – 150 tenaga kesehatan (nakes) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menggelar aksi mogok kerja dan mendatangi kantor DPRD setempat.

Related Post

Ratusan tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, analis, hingga sopir ambulans, mendatangi Komisi IV DPRD Ogan Ilir, untuk menyuarakan kendala yang mereka hadapi selama bertugas menghadapi wabah Covid-19.

Dalam tuntutan nya Tenaga Medis meminta untuk di lengkapi Alat Pelindung Diri  yang sesuai standar medis, dan rumah singgah untuk mereka tempati selama menangani pasien corona. Sebab, selama ini mereka takut pulang ke rumah.

Ketua Komisi IV DPRD Ogan Ilir, Rizal Mustafa, mengatakan kedatangan para tenaga kesehatan tersebut bertujuan meminta manajemen khususnya direktur RSUD dapat terbuka terkait pemberian fasilitas dalam menghadapi pasien virus corona ini.

“Memang saat ini RSUD Ogan ilir bukanlah tempat rumah sakit rujukan yang menangani perawatan pasien Covid-19 namun mengingat di Ogan Ilir sudah lumayan banyak orang terpapar covid-19 oleh karnanya sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat maka tak salah kami meminta APD yang standar.

Rizal Mustafa Anggota dprd dari Fraksi Nasdem menambahkan para Tenaga Medis juga meminta tambahan vitamin serta tambahan Insentif.

Dan ketika di minta pendapat nya tentang tuntutan tenaga medis tersebut, Rizal mengatakan apa yang menjadi tuntutan tenaga medis itu layak untuk di perjuangkan dan oleh karnanya kita meminta manajemen RSUD dan Bupati agar bisa memenuhi dan menyelesaikan permasalahan Tuntutan tenaga medis di kabupaten Ogan ilir.

Di lansir Media Kumparan Direktur Rsud Ogan Ilir, Roretta Arta Guna Riama, membantah para tenaga kesehatan tersebut mogok kerja karena kurangnya APD dan tidak adanya insentif yang diberikan dari rumah sakit. Menurutnya, mereka justru takut menangani pasien corona.

“Tidak benar itu, APD kita memadai, semua fasilitas penunjang juga kita penuhi. Mereka itu memang takut merawat pasien corona,” kata Direktur Rsud Ogan Ilir, Roretta Arta Guna Riama.

Hal yang sama juga terkait rumah singgah, menurutnya, manajemen rumah sakit sudah menyiapkan 35 kamar di kompleks DPRD Ogan Ilir agar bisa ditempati para tenaga kesehatan tersebut.

“Jadi kalau dibilang yang macam-macam itu tidak benar. Intinya mereka itu takut,” katanya.

Sementara itu Febuar Rachman advokat Senior Sumatera Selatan yang juga berasal dari Kabupaten Ogan Ilir, mengatakan para tenaga medis sangat jarang untuk melakukan aksi, jika mereka sudah sampai melakukan aksi biasa nya memang sudah sangat membahayakan Diri Mereka, Tentunya jika keselamatan diri mereka terancam tak menuntup kemungkinan dapat juga membahayakan Keluarga dan Lingkunganya.

Febuar melanjutkan, ”Dari yang saya baca di beberapa media, bukan hitungan satuan, puluhan tapi sudah di angka Ratusan tenaga medis melakukan tuntutan, artinya ada sesuatu yang harus di benahi dalam Permasalahan ini. Apapun yang di katakan oleh Direktur RSUD kabupaten Ogan Ilir itu merupakan hak nya dia.

Namun perlu kita ingat kan bahwa setiap orang yang datang berobat ke Rumah Sakit Pada saat ini Tenaga Medis lah yang berada di depan untuk menerima pasien, apalagi saat ini ada yang terpapar virus Covid-19 di kenal dengan istilah orang tanpa gejala(OTG). Jadi sangat wajar apabila di RSUD maupun di Puskemas di lengkapi APD yang standar. Ucap Febuar Tegas. (ray/bbs)