Tampak jalanan aspal selebar empat meter tertutupi abu bercampur lumpur, dan air mengalir tetap terlihat di beberapa titik.
Petugas dan relawan juga melakukan upaya pembersihan jalan menggunakan alat berat agar dapat dilalui, khususnya untuk kelancaran proses evakuasi warga.
Sejumlah warga mengaku kaget setelah tahu rumahnya sudah tinggal atap dan sebagian tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga.
“Saya sejak peristiwa Sabtu (4/12) lalu, sudah bersama keluarga mengungsi karena rumah terdampak. Tapi ternyata sekarang rumah sudah tenggelam oleh pasir,” ujar Yudi, warga Kamar Kajang.
Sambil menunjukkan rumahnya, pria 49 tahun tersebut tidak menyangka mengalami nasib serupa dengan warga di beberapa lokasi lain yang rumahnya terendam material bercampur pasir.
“Saya sebenarnya masih ingin tinggal di daerah ini. Tapi saya juga ikut kesepakatan warga di sini saja,” kata dia.
Pada Sabtu (4/12) sore terjadi peningkatan aktivitas Gunung Semeru yang mengeluarkan awan panas guguran dan berdampak pada daerah di sekitar gunung setinggi 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) itu.
Ratusan warga terpaksa mengungsi ke berbagai tempat aman untuk menghindari awan panas dari gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut. (rma/bbs)