//Pengunjuk rasa Floyd terus menggalang aksi protes karena Trump mengutuk ‘orang rendahan’
Palembang, Berita Rakyat Sumatera – Amerika Serikat telah dicekam oleh protes atas kematian George Floyd, seorang pria kulit hitam tak bersenjata yang meninggal pekan lalu dalam tahanan polisi di Minneapolis, Minnesota, dan kebrutalan polisi di seluruh negeri.
Presiden AS Donald Trump telah membuat marah para pemimpin agama dan pengunjuk rasa karena berjalan ke sebuah gereja bersejarah di dekat Gedung Putih dan mengambil kesempatan berfoto, hanya beberapa menit setelah polisi menggunakan gas air mata pada pengunjuk rasa yang damai.
Para pengunjuk rasa menuntut keempat perwira yang terlibat dituntut atas kematian Floyd. Sejauh ini, hanya satu yaitu perwira kulit putih Derek Chauvin, yang berlutut di leher Floyd selama hampir sembilan menit ketika pria kulit hitam itu memohon, “Saya tidak bisa bernapas” telah ditangkap dan didakwa pada hari Jumat dengan pembunuhan tingkat tiga dan pembunuhan. Pemeriksa medis telah memutuskan kematian sebagai pembunuhan.
Pengunjuk rasa memprotes kebrutalan polisi dan kekuatan berlebihan oleh pihak berwenang. Jurnalis juga menjadi sasaran polisi. Petugas juga terluka dalam protes itu.
Dilansir Aljazeera, para pengunjuk rasa tetap tidak terpengaruh oleh jam malam dan kehadiran Garda Nasional AS di beberapa kota. Protes yang sangat damai telah berubah menjadi kekerasan, dengan penjarahan dan vandalisme saat malam berlangsung. (jekk/rama/bbs)







Komentar