oleh

Bareskrim Polri Periksa Dokter Tifa Terkait Ijazah Jokowi

Jakarta, Berita Rakyat Sumatera – Salah satu sosok yang meragukan keaslian ijazah Jokowi, Dokter Tifa, mengaku banyak bungkam ketika diperiksa penyidik Bareskrim Polri pada Jumat (11/7/2025).

Wanita yang bersama Roy Suryo dan Rismon Sianipar dilaporkan Jokowi ke polisi ini hanya mengutarakan satu permintaan ke penyidik.

Dan, karena permintaan itu tidak dikabulkan, ia memilih untuk lebih banyak diam.

Jokowi sebelumnya melaporkan lima nama ke Polda Metro Jaya atas tudingan ijazah palsu.

Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor: LP/B/2831/IV/2025/SPKT/POLDA METRO JAYA.

Polda Metro Jaya menyatakan tengah menyelidiki kasus tersebut.

Barang bukti yang diserahkan Jokowi berupa flashdisk berisi 24 tautan video YouTube, unggahan media sosial X, fotokopi ijazah, dan dokumen penunjang lainnya.

Tifa sendiri masuk dalam daftar lima orang yang dilaporkan.

Namun, hingga saat ini status hukumnya masih sebagai saksi terlapor.

Ada satu hal yang sejak awal ingin dilihat wanita bernama asli Tifauzia Tyassuma ini.

Yakni, fisik dari ijazah Jokowi yang diklaim presiden Indonesia ke 7 itu asli.

“Seharusnya, saya sebagai terlapor itu punya hak untuk melihat,” ujar Tifa kepada awak media usai pemeriksaan.

Menurut Tifa, klarifikasi tak akan berjalan terang jika objek utama yang dipermasalahkan, dokumen ijazah itu, tidak diperlihatkan.

Ia pun menolak menjawab sebagian besar pertanyaan penyidik.

“68 pertanyaan itu kurang lebih menyoal tentang penelitian saya terkait ijazah itu. Nah, sebelum saya menjawab, tentu saja ijazah itu harus dihadirkan. Kalau tidak, ya omon-omon saja jadinya,” katanya.

Ia menambahkan menjawab 68 pertanyaan yang diajukan penyidik dianggapnya tidak berarti jika obyek utama yang dipermasalahkan, yakni ijazah Jokowi, tidak dihadirkan dalam pemeriksaan.

Meski demikian, ia mengaku tetap menjawab beberapa pertanyaan di luar isu utama ijazah, terutama yang menyangkut status dirinya sebagai saksi terlapor.

Tifa mengaku, sebenarnya sudah siap secara mental untuk menjalani pemeriksaan selama berjam-jam pada hari itu.

Namun, Tifa kembali menilai pemeriksaan itu menjadi tidak relevan karena tanpa kehadiran ijazah sebagai obyek utama penyelidikan.

“Kalau ada ijazahnya di depan meja ini, ya kita berbincang-bincang tentang ijazah tersebut. Dan itu akan relevan dengan pertanyaan yang diajukan,” katanya. (mhn/bbs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *