oleh

MPR: Indonesia Perlu Posisikan Diri Hadapi Tantangan

Jakarta, Berita Rakyat Sumatera – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai bangsa Indonesia harus memposisikan diri dan ambil sikap dalam menghadapi tantangan di era disrupsi dan pandemi COVID-19.

“Setelah kita merdeka 76 tahun, bagaimana kita memposisikan diri di percaturan dunia, ada satu situasi sebelum berhadapan dengan pandemi yaitu di era disrupsi yang menyebabkan berbagai macam perubahan,” kata Lestari Moerdijat atau Rerie dalam diskusi Forum Denpasar 12 bertajuk “Tantangan Politik 76 Tahun Merdeka” yang dilaksanakan secara daring, Rabu.

Dia mengatakan sebelum menghadapi pandemi COVID-19, bangsa Indonesia memasuki era disrupsi yang menyebabkan berbagai macam perubahan dan pola kehidupan masyarakat sehingga berdampak langsung pada perpolitikan dalam negeri.

Rerie mencontohkan bagaimana “platform” media yang berkembang dan mempengaruhi pikiran-pikiran di masyarakat termasuk perubahan arus politik.

“Bagaimana perubahan ‘post truth’ dan ‘post digital’ sehingga perlu dilakukan edukasi menyeluruh di setiap elemen bangsa dalam menghadapi arus perubahan yang tidak bisa dibendung tersebut,” ujarnya.

Dia menilai banyak “pekerjaan rumah” yang dihadapi bangsa Indonesia, misalnya berbicara arus perubahan politik, ada tantangan konkret yang dihadapi masyarakat seperti krisis multi-dimensi yang harus memerlukan penanganan dan jawaban.

Menurut dia, politik pada hakikatnya bertujuan untuk mengatur masyarakat dan keluarannya atau “output” menghasilkan kesejahteraan rakyat.

Dia mengatakan, tidak bisa dipungkiri ada kewajiban yang melekat dari bangsa Indonesia yang merdeka sebagai negara yang ditopang pilar kebangsaan untuI menjalankan politik bebas aktif.

Hadir dalam diskusi Forum Diskusi Denpasar 12 tersebut sebagai narasumber adalah anggota Komisi I DPR RI Muhammad Farhan, Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol. R Ahmad Nurwakhid, Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS Arya Fernandez, Analis Konflik dan Keamanan Alto Labetubun, dan peneliti dari The Centre for Indonesian Crisis Stategic Resolution (CICSR) Makmun Rosyid. (rma/bbs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *