oleh

MPR: Madinah di Zaman Nabi Muhammad Miniatur Indonesia

Palembang, Berita Rakyat Sumatera – Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengajak semua elemen bangsa, khususnya umat Islam, untuk menjadikan momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai pengingat Kota Madinah pada zaman Rasulullah SAW merupakan miniatur Indonesia karena kebhinnekaan di wilayah tersebut mirip dengan kebhinnekaan Indonesia saat ini.

“Di Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah, Nabi Muhammad SAW juga menghadapi kebhinnekaan suku-suku dan agama-agama. Suku-suku itu saling bersaing, para penganut agama-agama pun saling menunjukkan pengaruh,” kata Basarah dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, di tengah persaingan suku, agama, ras, dan antargolongan itu, Rasulullah SAW lalu mengajukan Piagam Madinah sebagai platform bersama yang mempersatukan.

Sekretaris Dewan Penasihat PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) itu menjelaskan, Piagam Madinah yang dibuat secara demokratis itu hanya memuat nilai-nilai bersama yang mengikat dan bisa diterima semua suku dan penganut agama di Madinah.

“Itulah sebabnya Piagam Madinah sejak awal tidak mendapat penolakan dari penduduk Yatsrib yang beragam,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, menurut dia, universalitas Piagam Madinah itu mirip dengan universalitas Pancasila yang juga memuat nilai-nilai bersama yang mengikat bangsa yang beragam ini dari segi suku, agama, ras, dan antargolongan.

Dia mengatakan jika lihat sejarah kelahiran Pancasila, umat Islam sebagai mayoritas tidak memaksakan kehendak mereka saat itu, sebaliknya penganut agama lain merasa terlindungi.

Oleh karena itu, Basarah menegaskan bahwa momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW harus dijadikan inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk memperkukuh persatuan nasional dan semangat gotong royong menghadapi pandemi COVID-19 yang semua belum tahu kapan akan berakhir.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI itu mengaku kagum pada akhlak Rasulullah SAW yang disebutnya akhlak Al Quran, misalnya Nabi Muhammad SAW hidup damai berdampingan bersama Yahudi, Kristen, dan Shabi’in selama 13 tahun tinggal di Madinah.

“Jika para pemimpin negeri ini, baik pemimpin formal maupun informal mau berlaku sesuai akhlak Rasulullah SAW niscaya negeri ini cepat maju dan dapat segera menyejahterakan rakyat,” katanya. (ojn/bbs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *