Palembang, Berita Rakyat Sumatera – Dimasa Pademi Covid-19 Pembelajaran jarak jauh sudah menjadi sebuah pilihan, keselamatan adalah hal yang paling utama, namun banyak pihak yang meragukan efektifitas PJJ tersebut, terutama bagi siswa yang kurang mampu.
Sudah dapat di pastikan tidak semua siswa bisa mengakses internet, sementara untuk melakukan PJJ di perlukan Perangkat Komputer/Laptop atau handphone Android.
Dedi warga kota Palembang, salah satu wali siswa yang kurang mampu menggambarkan keadaan proses belajar anaknya semasa pademi Covid-19.
Bagaimana saya dapat menyediakan fasilitas untuk PJJ sedangkan saya sendiri menggunakan Hp yang biasa, bukan android, apalagi mau membeli perangkat Komputer. Kata dedi menerangkan kondisinya.
“Anak saya baru naik kelas 5 Sekolah Dasar, dan sudah 4 bulan ini dia belajar melihat program pendidikan yang di tayangkan TVRI, jam tayangnya dimulai 9 wib sampai 10.30 wib, tayangan TVRI dicatat kemudian di kumpulkan kepada guru di sekolah, setelah itu waktunya di gunakan untuk bermain. Yah mau bagaimana lagi…” Ujar dedi berpasrah.

Gambaran kondisi di atas tentunya sangat berbahaya kalau tidak segera di carikan solusi yang tepat, Kecerdasan dan kepintaran anak bangsa terancam kata jeki firli ketua Generasi Muda Persaudaraan Muslim Indonesia (GM Parmusi).
Jeki berkeyakinan kondisi di atas tidak hanya di alami oleh Pak dedi, bisa ribuan bahkan jutaan wali siswa mengalami hal yang serupa. Bayangkan dengan waktu 1.30 menit siswa hanya mendapat pelajaran yang di tayangkan TVRI itu pun Pelajarannya dari kelas satu sampai kelas 6 SD.

“Menteri Pendidikan dan kebudayaan harus segera mengambil langkah cepat dan tepat untuk membuat sebuah kebijakan agar problema yang di alami wali murid seperti pak dedi segera ada solusinya, jangan sampai pembelajaran seperti ini tidak berlarut larut, karna kita tidak tahu kapan pademi covid-19 ini berakhir.” Ujar Jeki Menambahkan.
Sementara itu Nadiem Makarim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan tak ada rencana untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh permanen. Ia mengatakan belajar dengan metode tatap muka adalah yang terbaik.

“Pembelajaran tatap muka adalah model pembelajaran terbaik yang tidak bisa digantikan. Kemendikbud memastikan tidak memiliki rencana mempermanenkan PJJ sebagai satu-satunya model belajar mengajar di semua sekolah,” ujar Nadiem dalam keterangannya di Jakarta.
Nadiem mengatakan, selama menyelenggarakan PJJ di masa darurat, guru dan siswa tidak ada keharusan untuk mengejar ketuntasan kurikulum, maka inilah saat yang tepat untuk bereksperimen dengan alokasi waktu. (mhn/bbs)







Komentar