Jakarta, Berita Rakyat Sumatera — Upaya diplomatik untuk menghentikan konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja memasuki babak baru. Senin (28/7/2025), kedua negara dijadwalkan bertemu dalam perundingan damai yang difasilitasi oleh Malaysia sebagai Ketua ASEAN, dengan kehadiran pejabat tinggi dari Amerika Serikat dan China.
Langkah ini ditempuh setelah bentrokan berdarah meletus di perbatasan kedua negara sejak Kamis (24/7), yang menewaskan lebih dari 30 orang — sebagian besar warga sipil. Ketegangan yang terus meningkat mendorong komunitas internasional untuk turut ambil bagian dalam mencari solusi damai.
Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, mengaku pesimistis dengan niat baik Kamboja. “Kami tidak yakin Kamboja bertindak dengan itikad baik,” ujarnya saat akan bertolak ke Malaysia dari Bandara Bangkok. “Mereka harus menunjukkan kesungguhan, dan kami akan menilai itu dalam pertemuan nanti,” tegasnya.
Di sisi lain, Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menyambut baik forum perundingan tersebut. Ia bahkan menyebut kehadiran Amerika Serikat dan China sebagai bagian dari upaya bersama menyelesaikan sengketa secara damai dan adil.
Pemerintah Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan dukungannya terhadap dialog tersebut. Menurutnya, para diplomat AS di Kuala Lumpur siap membantu proses perundingan. Ini merupakan tindak lanjut dari pernyataan Presiden Donald Trump yang menilai kedua belah pihak memiliki keinginan untuk mengakhiri konflik.
Malaysia, yang tahun ini memegang tampuk keketuaan ASEAN, memainkan peran penting sebagai fasilitator. Perdana Menteri Anwar Ibrahim menegaskan bahwa perdamaian kawasan harus menjadi prioritas, dan pihaknya siap memimpin negosiasi jika diminta oleh kedua negara.
Meski Thailand menyatakan dukungan terhadap usulan gencatan senjata, negara tersebut masih mengedepankan penyelesaian secara bilateral. Sebaliknya, Kamboja mendorong pendekatan multilateral dengan melibatkan komunitas internasional.
Perundingan di Kuala Lumpur ini menjadi titik krusial dalam mengakhiri konflik yang telah merenggut banyak korban. Dunia menanti hasilnya, dengan harapan bahwa diplomasi dapat menggantikan dentuman senjata. (mhn/bbs)







Komentar