oleh

Menbud Fadli Zon Dorong Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Nganjuk

Jakarta, Berita Rakyat Sumatera – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyoroti potensi besar sektor ekonomi kreatif dan pendidikan berbasis budaya lokal di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Menurutnya, artefak, kesenian, dan produk khas daerah seperti wayang timplong serta turunan kemenyan putih dapat dikembangkan dalam konteks diplomasi budaya dan pariwisata berbasis warisan lokal.

“Kementerian Kebudayaan mendukung pengembangan museum dan program edukasi yang berakar pada budaya lokal, agar nilai-nilai sejarah dapat terus hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Fadli dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (10/10).

Pernyataan tersebut disampaikan Menbud usai menerima kunjungan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Gunawan Widagdo di Museum Nasional, Jakarta. Pertemuan itu membahas tindak lanjut lintas lembaga dalam penelitian, registrasi, dan pengelolaan situs budaya sesuai kaidah ilmiah.

Salah satu fokus pembahasan adalah rencana pengembangan Museum Prasejarah Desa Tritik, Nganjuk, sebagai pusat pengetahuan, edukasi, dan konservasi budaya lokal. Museum ini diharapkan menjadi simpul penting dalam memperkaya khazanah sejarah nasional dan meningkatkan literasi kebudayaan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Menbud juga menerima sejumlah artefak dan bahan budaya yang diserahkan oleh Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Koleksi itu antara lain mencakup fosil dan artefak dari Desa Tritik, dua warangka (sarung keris), produk dupa dari pohon kemenyan putih, dua batu berlian meteorit jenis lonsdaleite, wayang timplong bergambar Dewi Sekartaji, serta proposal pengembangan kawasan budaya Nganjuk.

Penyerahan tersebut menjadi simbol komitmen Pemerintah Kabupaten Nganjuk dalam melestarikan sejarah, tradisi, dan kekayaan alam yang memiliki nilai kebudayaan tinggi.

Gunawan Widagdo juga mengungkapkan rencana relokasi Museum Anjuk Ladang ke kawasan LKS Candi Lor, mengingat keterbatasan lahan di lokasi saat ini yang tidak memungkinkan pengembangan lebih lanjut. Relokasi tersebut sekaligus mempertimbangkan relevansi historis Candi Lor terhadap identitas Anjuk Ladang.

“Museum Anjuk Ladang saat ini berstatus sebagai museum umum dan memiliki koleksi yang cukup memadai. Kami berupaya meningkatkan statusnya menjadi museum tipe A agar dapat berperan lebih besar dalam penguatan identitas sejarah daerah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gunawan menjelaskan bahwa kawasan Hutan Tritik di Nganjuk bagian utara menyimpan banyak potensi arkeologis dan geologis, termasuk fosil hewan purba seperti Stegodon, peralatan batu prasejarah, serta fosil pohon kemenyan putih yang menjadi bukti adanya jejak peradaban kuno.

Selain itu, masyarakat juga menemukan batu meteorit dengan kandungan logam unik menyerupai batu mulia. Temuan tersebut kini tengah dikaji bersama Badan Geologi Nasional untuk memastikan nilai ilmiah dan potensinya bagi penelitian lebih lanjut. (mhn/bbs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *