Muara Enim, Berita Rakyat Sumatera – Desa Gumai Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim kini berada dalam status siaga api. Si jago merah bahkan sudah mengamuk dan meluluhlantahkan ratusan hektar kebun warga sejak sepekan lalu.
Kini, Desa Gumai yang dulu hijau berada diambang kehancuran. Tak hanya kebun dan hutan yang terbakar tapi warga desa juga telah kehilangan mata pencarian, akibat kebun-kebun mereka yang lenyap hanya dalam hitungan jam akibat kebakaran.
Ironisnya, saat ini warga desa hanya mampu memadamkan api dengan peralatan seadaanya. Warga bahkan kekurangan tenaga untuk memadamkan. Meski sudah berupaya keras siang-malam berjaga dan memadamkan api.
Selama ini, warga coba menghalau dengan menyemprotkan air seadaanya-yang di saat kemarau seperti sekarang ini air sangat sulit didapatkan. Warga juga mencoba membatasi dan melokalisir api dengan menebas rerumpatan di sekitar titik api.
Salah seorang warga Desa Gumai Irwandi mengatakan, saat ini warga dalam keadaan harap-harap cemas. Mereka khawatir api akan terus menyebar dan mengakibatkan lebih banyak kerusakan. Sementara, warga sudah berusaha sekuat tenaga. “Kalau melihat api ini kami ngeri sekali,” imbuhnya seraya mengungkapkan bahwa api sudah tak kunjung padam sejak sepekan terakhir.
Irwandi berharap, ada uluran tangan dari pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Mulai dari pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten. Karena dikhawatirkan, api yang tak kunjung padam akan lebih banyak menyebabkan kerusakan tak hanya di Desa Gumai tapi juga menjalar ke desa-desa lain yang ada di sekitarnya.
“Kalau blangwir (mobil pemadam kebakaran) itu ada yang datang. Tapi sudah datang sebentar, langsung pergi. Karena memang medannya sulit dilewati mobil. Terus ada juga yang pakai heli (bomber), tapi air yang disiramkan tak membuat api benar-benar padam. Sehingga setelah heli pergi, api kembali menyala dan membakar lahan,” ungkapnya.
Selain itu, ada satu hal lain yang disayangkan Erwandi dan warga desa. Menurutnya, salah satu perusahaan perkebunan sawit yang berada di desa itu terlihat kurang peka. Bahkan nyaris tak turut membantu untuk mengatasi masalah ini. Padahal katanya, api sudah sebagian membakar perkebunan sawit tersebut.
Seharusnya sebagai sebuah perusahaan yang berlokasi di daerah kebakaran sudah selayaknya perusahaan sawit itu turun tangan membantu melakukan mitigasi bencana. “Tapi mereka seperti tak peduli,” imbuhnya.
Lebih jauh Erwandi berharap, dengan adanya uluran tangan pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten serta peran serta perusahaan sawit lokal diharapkan masalah kebakaran di Desa Gumai bisa cepat teratasi dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih parah.
Tak hanya itu, dia juga berharap pemerintah untuk menyalurkan bantuan berupa sembako dan kebutuhan sehari-hari. Karena saat ini, sebagain besar warga desa telah kehilangan mata pencariannya akibat kebun karet yang terbakar.
“Saat ini kami butuh sembako dan air bersih. Karena kami kehilangangan mata pencarian. Kalau biasanya kami menjual karet mingguan saat ini tidak ada yang dapat dijual karena kebun terbakar. Sehingga benar benar dalam kondisi yang sangat membutuhkan untuk hadirnya negara dalam kondisi yang seperti ini. Kami juga membutuhkan mesin pompa air dan selang panjang untuk mencegah dan memadamkan api,” harapnya. (mhn/ril)







Komentar