oleh

Kunjungan Wisman dan Hunian Hotel Bintang Lima Turun Hampir 50 Persen

BPS Sumsel: Cabai Merah Sumbang Deflasi Sumsel Bulan April

PALEMBANG, Berita Rakyat Sumatera – Dampak wabah Coronavirus Covid-19 melanda hampir semua sektor kehidupan. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang lima turun hingga hampir 50 persen.

Data terbaru tersebut, mencatat jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Sumatera Selatan melalui pintu masuk Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pada bulan Maret 2020 sebanyak 448 kunjungan, turun sebesar 46,79 persen (hampir 50 persen) dibanding bulan Februari 2020 yang sebanyak 842 kunjungan.

“Kunjungan wisman pada bulan Maret 2020 ini yang paling banyak berasal dari Malaysia 275 kunjungan (61,38 persen), Singapura sebanyak 48 kunjungan (10,70 persen), dan Tiongkok sebanyak 8 kunjungan (1,80 persen),” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Endang Tri Wahyuningsih, sebagimana dilansir Pemprov Sumsel.

Adapun Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sumatera Selatan pada bulan Maret 2020 tercatat sebesar 39,86 persen, turun 13,36 poin dibanding TPK hotel bulan Februari 2020 yang sebesar 53,22 persen. TPK hotel tertinggi adalah hotel bintang lima sebesar 47,72 persen (hampir 50 persen) dan yang terendah adalah hotel bintang satu yang sebesar 24,77 persen.

Kemudian, BPS Sumsel juga mencatat Provinsi Sumatera Selatan pada bulan April 2020 mengalami deflasi sebesar 0,15 persen. Salah satu komoditas yang menyumbangkan penurunan harga itu adalah cabai merah.

Seperti di Kota Palembang misalnya pada bulan April 2020 mengalami deflasi sebesar 0,12 persen. Komoditas yang dominan menyumbang andil terhadap deflasi bulan April 2020 di Kota Palembang, antara lain cabai merah, daging ayam ras, biaya pulsa ponsel, telur ayam ras, dan beras.

Demikian halnya di Kota Lubuklinggau pada bulan April 2020 juga mengalami deflasi sebesar 0,43 persen. Komoditas dominan yang menyumbang andil deflasi di Kota Lubuk Linggau antara lain cabai merah, angkutan udara, daging ayam ras dan biaya pulsa ponsel.

Sementara itu, di Sumsel inflasi Tahun Kalender (kumulatif sampai dengan April 2020) tercatat sebesar 0,76 persen, dan Inflasi Tahunan “year on year” (April 2020 terhadap April 2019) sebesar 2,48 persen.

“Kenapa Cabai merah menyumbang inflasi, salah satu faktornya adalah suplai dan demend karena memang saat itu cabai sedang panen,” kata Endang.

Untuk perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Sumsel pada bulan April 2020 tercatat sebesar 91,21 atau turun sebesar 3,10 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP ini dipengaruhi oleh Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang mengalami penurunan rata-rata sebesar 3,22 persen. Sedangkan rata-rata Indeks yang Dibayarkan Petani (Ib) hanya mengalami penurunan sebesar 0,13 persen.

Penurunan NTP April 2020 jelas Endang dipengaruhi oleh turunnya NTP pada semua subsektor, yang masing-masing turun yakni subsektor tanaman pangan sebesar 1,91 persen, hortikultura 0,74 persen, perkebunan 3,69 persen, peternakan 1,99 persen, perikanan 1,75 persen, perikanan tangkap 1,73 persen dan perikanan budidaya sebesar 1,78 persen.

“Pada April 2020, di Sumatera Selatan terjadi deflasi perdesaan sebesar 0,16 persen yang disebabkan oleh turunnya rata-rata harga indeks di kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,33 persen dan perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,19 persen,” kata Endang.

Sedangkan, beberapa kelompok lainnya ada yang mengalami kenaikan tetapi relatif kecil, dan ada kelompok lainnya yang tidak mengalami perubahan.

Selanjutnya jelas Endang, pada April 2020 terjadi penurunan NTUP sebesar 3,21 persen. Hal ini terjadi karena rata-rata itu mengalami penurunan sebesar 3,22 persen, sedangkan rata-rata harga indeks BPPBM tidak mengalami perubahan. Turunnya NTUP disebabkan oleh turunnya NTUP di semua subsektor yaitu masing-masing tanaman pangan 1,89 persen, hortikultura 0,96 persen, perkebunan 3,84 persen, peternakan 2,29 persen, perikanan secara umum 1,96 persen, perikanan tangkap 1,84 persen dan perikanan budaya 2,14 persen.(asm/ras/rel/hms)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *