Jakarta, BeritaRakyatSumatera – Mastro Campursari Indonesia Didi Kempot akhirnya berpulang. Namun layaknya artis yang penuh dedikasi, Didi Kempoy masih sempat membuat karya sebelum meninggal dunia. Beberapa hari lalu, ia resmi merilis lagu Ojo Mudik yang merupakan karya serta pesannya kepada para penggemar yang merantau di tengah pandemi. Ini menjadi lagu pamungkasnya.
Dalam lagu terakhir tersebut Didi Kempot mengajak serta sejumlah pejabat di Solo, seperti Walikota FX Hadi Rudyatmo, Komandan Kodim 0735/Surakarta Letkol (Inf) Wiyata Sempana Aji, dan Kapolresta Surakarta AKBP Andy Rifai.
Lagu dimulai dengan gending gamelan yang diiringi suling dan permainan kibor diiringi kemunculan Didi Kempot dan Walikota Solo di awal video.
Video tersebut selanjutnya menggambarkan gerakan untuk saling menjaga jarak, cuci tangan, pakai masker oleh para petugas TNI dan Kepolisian, juga masyarakat. Didi juga meminta penggemarnya untuk berdoa dengan keras dan bersatu melawan corona agar segera selesai.
“Neng omah wae ( di rumah saja ) bersama-sama ayo lawan corona,” lantun Didi.
Kemudian, suara Didi Kempot muncul mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak mudik terlebih dahulu. Ia menyebut keluarga di kampung halaman pasti memahami kondisi yang sedang terjadi.
Lagu ini merupakan salah satu upaya Didi Kempot membantu pemerintah dan masyarakat melawan pandemi. Dia juga sempat terlibat dalam konser amal untuk penanggulangan virus corona.
Dikutip dari situs online, selain lagu Ojo Mudik, sebelum meninggal dunia Didi Kempot juga baru saja menyelesaikan lagu Yuni Shara. Hal itu diakui oleh kakak kandung Didi Kempot, Lilik.
Setelah itu, suhu tubuh Didi panas ketika pulang dari studio. Didi kemudian berencana ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya.
Asisten manajer humas RS Kasih Ibu, Divan Fernandez, mengatakan bahwa Didi dilarikan ke tempatnya bekerja, tapi nyawanya tak tertolong.
Didi Kempot adalah salah satu fenomena dalam musik Indonesia, terlepas dari namanya kian viral melambung dalam beberapa tahun terakhir. Musisi kelahiran 31 Desember 1966 ini sejatinya telah bermusik sejak 1984. Ia menjalani karier bermusik dari tahap yang amat bawah, menjadi pengamen.
Ia sudah menghasilkan puluhan album, setidaknya yang tercatat ada Stasiun Balapan (1999), Modal Dengkul, Tanjung Mas Ninggal Janji, Seketan Ewu, Plong (2000), Ketaman Asmoro (2001), Poko’e Melu (2002), Cucak Rowo (2003), Jambu Alas bersama Nunung Alvi (2004) dan Ono Opo (2005).
Bahkan, dirinya menyebut sudah membuat sampai 700 lagu sepanjang dia berkarier meskipun kini pencatatannya masih dalam proses. (ojan/bbs)







Komentar