oleh

Mendikbud: Covid-19 Membawa Banyak Hikmah Bagi Pendidikan Indonesia

Jakarta, BeritaRakyatSumatera – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, mengatakan wabah COVID-19 membawa banyak hikmah bagi pendidikan Indonesia.

Dia mengatakan pandemi memberi guru kesempatan untuk melakukan pembelajaran online untuk pertama kalinya. Ini, kata Nadiem, membuat para guru sadar bahwa pembelajaran dapat terjadi di mana saja.

“Krisis adalah tantangan luar biasa bagi negara kita dan seluruh dunia. Namun, dari krisis ini, kita mendapatkan banyak kebijaksanaan dan pembelajaran yang bisa kita terapkan sekarang dan sesudahnya, ”kata Nadiem dalam sambutannya pada upacara perayaan Hari Pendidikan Nasional yang diadakan secara online pada pukul 08.00 WIB, Sabtu (2/5).

Orang tua juga menjadi sadar akan sulitnya tugas guru mengajar siswa secara efektif. Dia menganggap ini menyebabkan empati dari pihak orang tua kepada guru.

“Pendidikan yang efektif membutuhkan kolaborasi yang efektif dari ketiga hal ini, guru siswa dan orang tua. Tanpa kolaborasi itu, pendidikan yang efektif tidak mungkin, ”tambahnya.

Secara terpisah, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) memiliki pandangan berbeda tentang pendidikan dalam pandemi korona. FSGI menyatakan bahwa sebanyak 68.265.784 siswa dan 3,2 juta guru terkena dampak wabah korona dan harus mengajar dari rumah.

FSGI menilai sekolah, guru, siswa, orang tua hingga pemerintah daerah tidak siap untuk menangani tantangan pendidikan di tengah-tengah wabah yang tiba-tiba. Siswa juga ditemukan merasa terbebani oleh metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan oleh guru. Kemampuan guru dianggap masih minim dalam mengelola pembelajaran online.

Selain itu, pembelajaran online juga dikatakan efektif hanya di daerah yang memiliki akses internet yang adil. Meskipun tidak semua daerah dapat menyediakan akses internet untuk semua siswa dan sekolah.

“Bahkan listrik belum masuk wilayah. Jadi para guru terpaksa mengajar untuk datang ke rumah siswa meskipun berpotensi melanggar protokol kesehatan PSBB dan COVID-19, ”kata FSGI seperti dikutip oleh situs online.

Menurut FSGI, kebijakan PJJ yang sebagian besar bergantung pada pembelajaran online memiliki potensi untuk memperluas kesenjangan sosial-ekonomi antara siswa di seluruh wilayah.

Untuk alasan ini, pemerintah didorong untuk membuat skenario pendidikan di saat krisis konkret. Ini termasuk skenario jangka pendek, dan jangka panjang jika krisis serupa menghantam Indonesia.

“Penting untuk merancang Kurikulum Krisis Darurat. Karena kondisi masyarakat, orang tua, siswa, guru, dan infrastruktur pendukung pendidikan sangat terbatas, ”kata Wakil Sekretaris Jenderal FSGI, Satriwan Salim.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sendiri menyatakan bahwa mereka memikirkan skenario PJJ hingga tahun ajaran baru 2020/2021. Jika wabah belum surut, kemungkinan PJJ dapat berlanjut hingga akhir tahun.

Hingga saat ini PJJ telah dilakukan dengan berbagai metode sesuai dengan kemampuan sekolah. Mulai dari online dengan sistem aplikasi pembelajaran online, aplikasi pesan.

Hingga metode offline dengan televisi dan radio.

Sedangkan kasus teknis PPDB Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan disampaikan kepada masing-masing pemerintah daerah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendorong PPDB dilakukan secara online, atau dengan protokol kesehatan jika tidak ada akses internet. (ojan / bbs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *