oleh

Ocktaf Riadi: Seharusnya Pemkot Palembang Sisir ODP hingga ke Perkampungan

//Satgas Sumsel: 23 Pasien Positif Covid di Sumsel Dinyatakan Sembuh

PALEMBANG, Berita Rakyat Sumatera – Bertambahnya jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan pasien Covid-19 di Kota Palembang harus segera dicarikan solusi pemutusan mata rantainya. Menurut Tokoh Pers Sumatera Selatan, Ocktaf Riadi, yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kota Palembang ialah melakukan penyisiran terhadap ODP hingga ke perkampungan di tingkat Rukun Tetangga (RT).

“Bila Walikota Palembang ingin mendapatkan data yang valid dan cepat mengetahui sebaran ODP, lakukan pelacakan dan penyisiran hingga ke perkampungan di tingkat Kelurahan dan RT,” kata Ocktaf, Ketua Advokasi/Pembelaan Wartawan PWI Pusat itu.

Bagaimana caranya? “Minta data riwayat pasien atau warga yang pernah berobat ke dokter praktek dan bidan praktek. Disana pasti ada data pasiennya. Nah, bila ditelusuri dan dilakukan tes, saya yakin akan kita dapatkan data yang lebih akurat. Kalau Swab Test biayanya mahal, ya bisa menggunakan Rapid Test,” kata Ocktaf memberi saran.

Selain itu, lanjut Ocktaf, Pemerintah Kota harus lebih proaktif melacak keberadaan ODP di perkampungan. “Sesuai arahan Bapak Presiden Joko Widodo, lakukan pelacakan atau penyisiran hingga ke perkampungan. Cari tahu pasien atau dokter yang merawat pasien berinteraksi dengan siapa saja. Setelah data didapatkan, lakukan Swab Test, kalau biayanya mahal minimal lakukan Rapid Test,” kata mantan Ketua PWI Sumsel dua periode itu.

Terkait dengan tren penambahan ODP di Kota Palembang, bahkan Walikota Palembang Harnojoyo sempat akan mengusulkan kenaikan status menjadi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dari status Zona Merah. Namun, rencana itu ditunda pengusulannya karena syarat yang ditentukan Pemerintah Pusat belum terpenuhi. Hal itu disampaikan Sekda Kota Palembang, Ratu Dewa, bahwa pengusulan ditunda karena syaratnya belum terpenuhi.

Sebelumnya, rencana PSBB itu menuai pro-kontra. Bahkan muncul protes keras dan sejumlah tokoh dan warga. Sebab, bila PSBB diberlakukan tidak diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan dasar warga, akan berdampak pada menurunnya kondisi ekonomi masyarakat. Bahkan ekstrem disampaikan warga bahwa bisa-bisa mati kelaparan lebih dulu, daripada terjangkit Covid-19.

Walikota Harnojoyo akhirnya membuat aturan agar warga yang melanggar protokol penanganan Covid-19 akan diangkut ke Asrama Haji Palembang untuk ditindak dan diedukasi. Yang dimaksud melanggar ketentuan protokol penanangan Covid-19, antara lain tidak memakai masker dan tidak melakukan Physical Distancing.

Terpisah, Kepala Dinas Kominfo Sumsel, Achmad Rizwan, mengumumkan perkembangan rilis Corana Virus Disease19 (Covid-19) di Provinsi Sumsel, kepada awak media Melalui video conference. Pasien sembuh sebanyak 23 pasien positif Covid-19 dinyatakan sembuh. Data 23 pasien sembuh tersebut berasal darin Kabupaten OKI 2 Orang, Palembang 16 orang, Kabupaten OKU 1 Orang, Kota Pagaralam 1 Orang, dan Luar kota 1 Orang, Prabumulih 1 Orang.

Saat ini sebanyak 779 sampel sedang diperiksa, terdiri dari 502 sampel Orang Tanpa Gejala (OTG), 219 sampel Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan 59 sampel Orang Dalam Pemantauan (ODP).

“Sebanyak 144 sampel dinyatakan positif Covid-19, 158 orang sampel negatif dan 477 sampel masih dalam proses pemeriksaan. Dan terjadi penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 1 orang yang diketahui berdomisili di Kota Palembang,” katanya, sebagaimana dilansir Satgas Pemprov.

Rizwan mengimbau agar masyarakat Provinsi Sumsel tetap selalu mematuhi peraturan pemerintah untuk memutuskan rantai penyeberan covid 19 atau virus corona.

Mengingat pandemi covid 19 ini jika tidak disikapi dengan baik, akan menyebabkan penambahan pasien yang cukup signifikan.

“Penyakit ini setiap hari selalu bertambah , mencegah agar tidak bertambah kami meminta masyarakat untuk mematuhi aturan pemerintah, pakailah masker terutama berada di tengah kerumunan. Selalu cuci tangan di air mengalir, perkuat daya tahan tubuh, tidur dan istrahat yang cukup. Kemudian beraktifita yang teratur, tidak stress dan tidak panik. Semuanya bisa meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan virus,”pungkasnya. (asm/bbs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *