oleh

Pemkot: Berkas PSBB Palembang Belum Penuhi Syarat

//Eddy Rianto: Seharusnya Dilakukan Sampling Rapid Test atau Swab Test di Setiap Kecamatan

//Sihat Judin: Walikota Harusnya Percepat Karantina Khusus

PALEMBANG, Berita Rakyat Sumatera – Usulan Pembatasan Sosial Berskala Besar dari Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang belum memenuhi persyaratan yang ditentukan Kementerian Kesehatan, sehingga berkas belum diajukan.

Walikota Palembang Harnojoyo, melalui Sekretaris Daerah Kota Palembang, Ratu Dewa, mengatakan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang masih belum menyurati Pemprov Sumsel maupun pemerintah pusat terkait PSBB meski dukungan untuk pelaksanaan PSBB terus mendesak.

“Bahwa Pemkot Palembang sudah mengajukan surat itu belum ada, kami belum lakukan itu,” ujar Ratu Dewa, sebagaimana dilansir Antara.

Menurut dia, Pemerintah Kota Palembang sebenarnya sudah hampir memenuhi semua persyaratan PSBB, seperti ketersediaan sarana prasarana kesehatan, ketersediaan jaring pengaman sosial, dan persiapan sisi keamanan.

Namun jika dilihat dari peningkatan dan kurva penyebaran COVID-19, masih terdapat ganjalan dengan belum meratanya penyebaran COVID-19 di semua kecamatan.

Dari 18 kecamatan di Kota Palembang, kata dia, terdapat dua kecamatan yang masih dinyatakan negatif penyebaran COVID-19 yakni Kecamatan Gandus dan Bukit Kecil.

“Jika dilihat dari peta sebaran maka belum memenuhi syarat,” tegas Ratu Dewa.

Meski belum memenuhi syarat, Pemerintah Kota Palembang telah menyiapkan berbagai tindakan simulasi pencegahan untuk mengurangi mobilitas masyarakat mengingat kasus positif di Kota Palembang terus meningkat dan tertinggi di Sumsel.

Simulasi itu seperti pembentukan cek poin di wilayah perbatasan Kota Palembang dengan mencegah kendaraan non-logistik masuk, serta imbauan mendesak kepada masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di luar ruangan.

Data Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Sumsel mencatat terdapat 76 kasus positif COVID-19 di Kota Palembang atau 60 persen dari total 130 kasus di Sumsel per 27 April 2020, Kota Palembang juga telah berstatus zona merah sejak pertengahan April.

Terkait hal itu, menurut tiga wartawan senior Sumatera Selatan, Eddy Rianto, Sihat Judin, dan Ocktaf Riady, untuk mengetahui sebaran Covid-19 di Kota Palembang seharusnya dilakukan tes di setiap kecamatan. “Itu karena Kota Palembang belum melakukan Rapid Test atau Swab Test, sampling di setiap kecamatan dalam Kota Palembang. Bila itu dilakukan, tidak menutup kemungkinan data yang didapat akan lebih besar dari yang ada saat ini,” kata Eddy Rianto.

Menurut Eddy, itulah alasan kenapa kritik kepada Walikota dan Wakil Walikota untuk serius melihat perkembangan Covid-19 di Kota Palembang. “Bukan sibuk bagi sembako, tapi harus lebih serius kepada tatanan manajemen yang dilakukan oleh Gugus Tugas Kota Palembang, apalagi ketua gugus tugas itu ialah Walikota sendiri,” kata pria yang juga Direktur Berita Rakyat Sumatera itu.

Bila dilakukan pemeriksaan secara merata, lanjut Eddy, pasti banyak warga yang berkeinganan untuk memeriksakan dirinya. “Bila pemeriksaan dilakukan secara gratis, pasti banyak warga yang ingin cek. Sebab, itu untuk keamanan diri sendiri dan keluarganya agar mendapatkan kepastian kesehatan mereka, tidak was-was lagi,” kata Eddy bersama Sihat Judin, dalam siaran langsung IG Berita Rakyat Sumatera.

Diberitakan sebelumnya, tiga tokoh pers Sumatera Selatan itu, telah memberikan kritikan tajam berupa masukan membangun untuk penanangan Coronavirus Covid-19 baik antisipasi maupun dampaknya. “Walikota jangan hanya terkesan  pencitraan, segera ambil langkah atasi penyebaran Covid-19 di Kota Palembang, antara lain percepat buat tempat Karantina Khusus,” kata Sihat, hal yang sama juga disampaikan Ocktaf Riady, Ketua Advokasi/Pembelaan Wartawan PWI Pusat.

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Sumsel, Yusri, sebelumnya menyampaikan bahwa Kota Palembang belum memiliki tempat Karantina Khusus, padahal pasien positif (PDP), ODP, dan OTG terbanyak di Sumatera Selatan. “Kami sudah kirim surat rekomendasi kepada Walikota Palembang, agar menyiapkan tempat Karantina Khusus, sebab Kota Palembang mempunyai pasien terbanyak di Sumsel,” kata Yusri.(ant/ojan/bbs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *