oleh

Wartawan Alami Deprisi Di Tengah Badai Corona

//Hasil Survei Unpad 45,92% Alami Gejala Tersebut

Palembang, BeritaRakyatSumatera –  Pandemi COVID-19 memengaruhi kesehatan mental semua lapisan masyarakat  tak terkecuali jurnalis. Hal tersebut di lansir dari pikiran Rakyat.com tercermin dari hasil survei persepsi diri wartawan saat pandemi COVID-19 yang dilakukan Center for Economic Development Study (CEDS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran.

Berdasarkan hasil survei tersebut terungkap 45,92% wartawan mengalami gejala depresi. Selain itu, 57,14% wartawan mengalami kejenuhan umum.

Demikian terungkap dalam kegiatan Best Practice Webinar Series yang digelar CEDS FEB Unpad, Prodi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unpad bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis 14 Mei 2020.

Kegiatan ini menghadirkan Riki Relaksana dan Jorghi Varda dari CEDS sebagai pembicara. Sementara, bertindak sebagai pembahas Dosen Komunikasi UGM dan peneliti jurnalistik Wisnu Martha, Dosen Fakultas Psikologi Unpad Aulia Iskandarsyah, dan Redaktur Pelaksana Pikiran Rakyat Enton Supriyatna Sind.

Dalam pemaparannya Jorghi menyebutkan survei dilakukan secara dari pada periode 2-10 April. Terdapat 98 wartawan dari berbagai daerah di Indonesia yang turut serta dalam survei tersebut. Dengan domisili terbesar di Pulau Jawa. Survei yang sama juga dilakukan kepada dua kelompok lain, yakni tenaga medis dan mahasiswa.

“Dari hasil survei 45,92% wartawan memiliki gejala depresi jauh lebih tinggi dibandingkan tenaga kesehatan yang hanya 28%. Mereka yang tetap keluar rumah untuk meliput berita lebih banyak mengalami gejala depresi dan memiliki peluang 1,65 kali mengalami depresi dibandingkan wartawan yang tidak keluar rumah untuk meliput berita,” katanya.

Adapun gejala yang dialami diantaranya, ketakutan, mudah terganggu dengan hal yang biasa, tidur gelisah, sulit memusatkan pikiran, merasa tertekan, merasa sendirian, dan berat untuk memulai sesuatu.

“Kami mencoba mengestimasi biaya depresi dari wartawan selama masa pandemic ini dengan menggunakan beberapa pendekatan. Total treatment per tahun per orang dikisaran Rp 8,3 juta. Dari responden yang ada, 22 jiwa berisiko dengan biaya perawatan mencapai Rp 183 juta. Ini tentunya harus menjadi perhatian,” ujar Riki Relaksana.

Riki juga menambahkan survei juga menemukan 57,14 persen wartawan mengalami kejenuhan umum. Wartawan yang tidak keluar rumah untuk meliput berita lebih banyak mengalami kejenuhan dan memiliki pelaung 2,58 kali mengalami kejenuhan dibandingkan yang keluar rumah untuk meliput berita.

Menanggapi hal tersebut Wisnu menilai temuan survei tersebut harus menjadi perhatian bersama karena peran wartawan dan media sangat penting dalam memberikan informasi yang benar dan jelas kepada masyarakat. Apalagi di era saat ini dimana wartawan harus mampu menyampaikan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat ditengah gempuran informasi yang belum terkonfirmasi namun begitu mudah menyebar di masyarakat.

“Peran media dan wartawan sangat penting. Tentunya harus mendapatkan dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah untuk melindungi wartawan. Bagaimana membuat mereka tidak merasa sendiri,” katanya.

Senada, Aulia mengatakan temuan harus menjadi perhatian masyarakat. Wartawan merupakan garda terdepan dalam menerjemahkan informasi, kebijakan, dan peraturan. Kemudian, informasi yang diolah wartawan menjadi sumber bagi amsyarakat umum dan memengaruhi orang dalam melakukan tindakan.

“Bayangkan jika wartawan jenuh maka bagaimana kualitas tulisannya. Maka itulah yang diperoleh masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, jika gejala depresi yang dialami para wartawan tidak tertangani maka akan menimbulkan efek kronis. Gejala depresi dan kejenuhan akan mengganggu fungsi yang bersangkutan, menurunnya kualitas hidup, dan dampaknya menjadi mayor.

“Terpenting adalah orang-orang harus memiliki awareness. Jika sudah menunjukkan symptom ini lakukan pertolongan pertama, yakni dengan menajdi helper untuk temen kita. Line pertama itu teman, atasan, kolega. Jika gejalanya bertambah maka harus ditangani secara professional. Treatment itu harus ada,” katanya.

Sementara itu, Enton memberikan apresiasinya atas survei yang dilakukan. Hal tersebut secara langsung menunjukkan adanya perhatian dari akademisi mengenai situasi dan kondisi yang dihadapi wartawan. Ia berharap perhatian serupa juga dilakukan pemerintah.

Enton mengemukakan hasil survei tersebut menjelaskan kondisi yang tengah dirasakan wartawan saat ini. Diakui pandemi dan kebijakan yang dilakukan pemerintah telah memengaruhi cara kerja wartawan. Bahkan sejak awal, para awak media telah memperkirakan akan mengalami kesulitan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya akibat pandemic ini.

“Kami melakukan pembicaraan dengan kru redaksi dan membuat kesepakatan, tidak ada satu berita pun yang semahal harga nyawa. Bagaimana wartawan bisa menyelamatkan dan mengamankan dirinya dari paparan wabah ini. Tapi di satu sisi tetap harus memberikan pelayanan ke masyarakat. Memang paradox sekali,” katanya.

Selama dua bulan terakhir, mayoritas wartawan menghabiskan waktunya di rumah. Wartawan melakukan peliputan dari rumah dengan menggunakan perangkat yang dimiliki agar tetap mengirim berita. Walau demikian, sebelum pandemic peliputan wartawan dinamis, selalu bertemu dengan narasumber yang berbeda, isu berbeda dan lokasi yang berbeda.

Namun kini semua berubah, narasumber terbatas, ruang terbatas dan ini membuat kejenuhan yang luar biasa bagi wartawan. Isu yang monoton dari hari ke hari juga membuat wartwan tidak bisa mengembangkan idenya lebih jauh. Begitupun dengan isu negative yang harus diproduksi juga memengaruhi mental.

“Oleh karena itu, para redaktur berupaya menurunkan tensi penugasan kepada wartawan. Jalan pintas yang bisa diambil adalah membuat berita yang terbaik yang bisa dilakukan dengan menggunakan fasilitas dari rumah,” ujarnya.(ras/bbs).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *