oleh

Warga Meninggal, Bupati Kholid Mawardi Diminta Lebih Serius Tangani Covid-19

//Ocktaf Riadi: Bupati Harus Super-aktif dan Libatkan Masyarakat

MARTAPURA, Berita Rakyat Sumatera – Meninggalnya seorang warga Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) yang merupakan pasien impor dari Jakarta, Zona Merah Covid-19, menyisakan tanda tanya besar terhadap penanganan Covid-19 oleh Pemerintah Kabupaten OKU Timur yang dipimpin Bupati M Kholid Mawardi.

Walau korban merupakan pasien impor yang baru pulang dari Jakarta, sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) alias Asisten Rumah Tangga, namun sebelum meninggal dunia, almarhumah sempat melakukan isolasi mandiri selama tiga hari ketika tiba di OKU Timur, yaitu isolasi mandiri di rumah pribadi orang tuanya di Kecamatan Belitang Jaya, OKU Timur.

“Kita sayangkan, kenapa Pemerintah Kabupaten OKU Timur tidak sigap melakukan antisipasi. Padahal Pak Bupati sebelumnya sudah koar-koar menyampaikan bahwa penanganan Covid-19 di OKU Timur sangat baik dan selalu dilakukan sesuai standar penanganan Covid-19. Tapi, nyatanya pasien yang baru datang dari Jakarta sebagai daerah berstatus Zona Merah Covid-19, bahkan pengurusan jenazahnya sesuai standar penanangan Covid-19 itu, tidak langsung dibawa ke rumah sakit di OKU Timur atau dirujuk ke RSMH Palembang sebagai rumah sakit rujukan Covid-19 di Sumsel,” kata Husni, warga perantau dari Kota Negara, OKU Timur.

Menurut dia, ketika ada orang yang datang dari daerah Zona Merah, apalagi dari Jakarta yang sudah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), seharusnya dilakukan sesuai standar penanangan Coronavirus Covid-19. Terlebih, yang bersangkutan sudah diidentifikasi sakit yang mirip ciri-ciri Covid-19, walau belum dipastikan apakah yang bersangkutan positif Covid-19 atau tidak. Namun, penanangan proses penguburan jenazah sudah dilakukan sesuai standar Covid-19, bahkan sudah dilakukan isolasi mandiri di rumah orang tuanya di OKU Timur.

“Kalau begitu cara antisipasi dan penanangannya, hanya isolasi mandiri di rumah pribadi orang tuanya, padahal baru pulang dari Jakarta, zona merah Covid-19, kita khawatir ketika pasien diluar pengawasan Pemerintah atau Satgas, pasien sempat berinteraksi dengan keluarga besar mereka atau tetangga. Tapi, kita doakan semoga itu tidak terjadi dan keluarga yang ditinggal baik-baik saja,” kata Husni.

Kekhawatiran yang sama disampaikan oleh Likman, warga asal Belitang, OKU Timur. Menurutnya, bila ada pasien yang berasal dari daerah zona merah, apalagi dari Jakarta yang merupakan pasien Covid-19 terbanyak, bahkan sudah berstatus PSBB, Pemerintah Daerah harus benar-benar memberlakukan setiap yang pulang kampung dengan penanganan Covid-19. Hal itu untuk keamanan dan kenyamanan pasien dan keluarga itu sendiri, juga keselamatan warga lainnya.

“Jangan sembrono, bahaya sekali. Kan kita tidak tahu keluarganya yang lain sempat bersentuhan atau tidak dengan pasien tersebut. Kalau sempat berinteraksi dengan keluarganya, kasihan keluarga mereka. Makanya, pak Bupati harus lebih serius menangani Covid-19 ini. Pemerintah atau Satgas, atau tim yang ditugaskan untuk penanangan Covid-19, harus benar-benar melakukan penanganan antisipasi penyebaran Covid-19 secara gesit dan lebih serius. Kita berdoa semoga almarhumah tersebut bukan terjangkit Covid-19 agar warga lain tidak was-was,” katanya memberi saran.

Terkait kepastian pasien meninggal diduga terkait Covid-19, sebelumnya Juru bicara Gugus Tugas Covid-19  OKU Timur, Yakub MKes kepada pers membenarkan informasi tersebut. “Korban meninggal dunia dan sudah dilakukan pemakaman,” ujarnya kepada wartawan.

Pria yang juga menjabat sebagai Sekretarias Dinas Kesehatan itu mengatakan, sepulang dari Jakarta, kondisi korban kurang baik. Korban menderita demam dan batuk serta sempat menemui bidan desa untuk mendapat pengobatan. Dan setelahnya diminta kepala desa (Kades) untuk menjalani isolasi mandiri di rumah orang tuanya.

“Kondisinya memang kurang sehat sehingga sempat diobati di bidan desa. Setelah itu warga ini berdiam diri di rumah orang tuanya. Dan pagi ini mendapat informasi yang bersangkutan meninggal dunia,” tambahnya.

Soal status korban apakah positif terinfeksi Covid-19 atau bukan, Yakub belum memastikan. Namun menurutnya, pemakaman jenazah menggunakan SOP penanganan korban Covid-19. Untuk berjaga-jaga sekaligus mengantisipasi hal yang tak diinginkan. “Kita masih menunggu (hasil) test. Memang benar pemakamannya kita lakukan sesuai standar penanganan Covid-19,” tandasnya.

Beberapa hari sebelumnya, Bupati OKU Timur, Kholid Mawardi mengatakan bahwa di OKU Timur belum ada seorang pun pasien Covid-19 alias masih nol. Namun demikian, Kholid berharap tidak ada warganya yang terjangkit virus Covid-19. Kholid pun mengatakan bahwa setiap yang datang ke OKU Timur dilakukan pemeriksaan atau penanangan antisipasi penyebaran Covid-19.

Namun demikian, walaupun masih ada daerah yang belum terjangkit virus Covid-19, Presiden Joko Widodo minta kepala daerah lebih waspada. “Saya minta setiap Menteri dan Kepala Daerah, untuk jangan terlena dengan penyebaran Covid-19, termasuk di daerah yang belum terjangkit. Mari kita perangi Covid ini secara bersama-sama, dan jangan terlena. Kita berharap Covid-19 ini segera berlalu,” kata Presiden mengingatkan.

Aktivis sosial dan tokoh senior Pers Sumatera Selatan, Ocktaf Riadi mengatakan, seharusnya pemerintah daerah lebih serius dan ketat memeriksa kedatangan orang atau kepulangan warganya ke OKU Timur. “Mestinya dibuatkan call center untuk masyarakat melapor setiap saat bila ada pendatang atau yang pulang kampung ke OKU Timur,” kata Ocktaf.

Selain itu, lanjut Ketua Advokasi Wartawan PWI Pusat tersebut, sosialisasi harus rutin dilakukan kepada masyarakat. “Siapapun diberikan kesempatan melapor kepada pemerintah bila ada yang datang, bagus juga libatkan masyarakat. Bupati harusnya buat pos-pos atau Satgas hingga ke tingkat RT. Kita harap jangan hanya seremoni, Pemerintah Daerah (Bupati) harus super-aktif dan benar-benar serius melacak keberadaan yang datang ke daerahnya dan melakukan penanganan sesuai standar prosedur Covid-19. Semua itu dilakukan untuk menyetop peredaran virus Covid-19,” kata Ocktaf memberi saran.(hmi/tim/bbs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *