oleh

Waduh, Walikota Prabumulih Kembali “Abaikan” Instruksi Presiden

PALEMBANG, Berita Rakyat Sumatera – Kerumunan massa dan resepsi pernikahan di sejumlah daerah di Indonesia acapkali dibubarkan paksa oleh petugas. Pembubaran itu sesuai dengan Instruksi Presiden RI Joko Widodo, Instruksi Kapolri, dan imbauan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, agar tak berkerumun untuk menyetop peredaran Coronavirus Covid-19.

Anehnya, peristiwa berkerumun justru mengejutkan terjadi di Kota Prabumulih yang sudah ditetapkan sebagai zona merah Covid-19, dan malah dihadiri langsung oleh Walikotanya, Ridho Yahya.

Walikota Prabumulih, Ridho Yahya tampak Berada di halaman Rumah Dinas Walikota.

Kerumunan massa tersebut terjadi hari ini, Selasa (21/04/2020), yang terlihat di halaman Rumah Dinas Walikota Prabumulih di Jalan Jenderal Sudirman, Prabumulih. Sebagian massa terlihat mengenakan seragam Pramuka. Rupanya, mereka berkumpul untuk menggelar acara penyemprotan disinfektan secara massal.

Acara yang digelar oleh Pemerintah Kota Prabumulih menghadirkan organisasi masyarakat dan para siswa Pramuka di Kota Prabumulih. Pada video yang beredar, terlihat dan terdengar di rekaman bahwa Walikota Ridho Yahya memberikan kata sambutan menyebut beberapa instani termasuk Dinas maupun Badan, termasuk juga Ketua Kwarcab  Kota Prabumulih.

Anak Pramuka Berkumpul Tanpa Jarak, Physical Distancing.

Tampak dalam video tersebut, anak-anak Pramuka dari berbagai sekolah di Kota Prabumulih, terlihat di rekaman tampak berkerumum dan sesekali ada yang tak berjarak jauh di antara mereka. Mereka bersemangat dan antusias  seakan tanpa tahu bahaya yang mengintai.

Langkah Presiden menginstruksikan agar dilakukan protokol kesehatan, termasuk physical distancing (jaga jarak fisik), patut diapresiasi. Dengan mengurangi pertemuan-pertemuan, apalagi imbauan tak tarawih di masjid melainkan dilakukan di rumah, agar warga yang di masjid-masjid juga terbebas dari kemungkinan terkena Covid-19. Apalagi sebentar lagi bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Tapi sayangnya, jumlah massa tampak cukup banyak terlibat di acara itu, bahkan membuat suasana terlihat padat, dan terkesan berkerumun. Padahal kerumunan massa yang terlihat  di video sangatlah dilarang oleh Pemerintah Pusat. Anehnya, Pemerintah Kota Prabumulih seakan tak mengindahkan instruksi Presiden dan Instruksi Kapolri tersebut, apalagi Kota Prabumulih sudah ditetapkan sebagai kota kategori Zona Merah Covid-19.

Walikota Prabumulih dan Sekda Kota Prabumulih.

Sekolah diperintahkan untuk libur, yang kerja pun disarankan dari rumah, sholat Jum’at ditiadakan sementara, masyarakat disuruh berdiam diri di rumah. Physical distancing dan atau menjaga jarak dianggap satu-satunya cara untuk memutus mata rantai penyebaran Corona. Pertanyaannya kenapa massa justru terlihat berkumpul? Bukan dibubarkan oleh Pemerintah Kota dan ini tentunya terlihat sepertinya mengabaikan instruksi Presiden Republik Indonesia.

Walikota Prabumulih Ridho Yahya dalam pidato yang beredar, mengatakan, bahwa acara yang diadakan di Rumah Dinas Kota Prabumulih dalam rangka mengajak warga Kota Prabumulih untuk memerangi Coronavirus Covid-19. “Para hadirin yang berbahagia, saat ini Kota Prabumulih masuk zona merah, artinya penularan antar kita. Nanti kalau tidak adalagi Covid, zona merah akan dicabut dari kota kita. Alhamdulillah syukur sosialisasi agar warga kita memakai masker,” ujar Ridho Yahya.

Pada acara itu juga, dalam pidatonya Ridho pun mengimbau warganya untuk tidak keluar rumah, kecuali sangat penting. “Dengan zona merah ini, kita berusaha sekuat tenaga agar saudara kita, warga kita, untuk banyak-banyak tinggal di rumah, keluar ke rumah pun kecuali ada keperluan mendesak. Tapi di rumah pun kita sudah siapkan sembako,” ujar Ridho, yang juga menyebut jumlah warga miskin di Kota Prabumulih bertambah menjadi 34 ribu. Jumlah itu merupakan penjumlahan dari miskin yang lama dan data baru.

Terpisah, Juru Bicara penanganan penanggulangan Coronavirus Covid-19 Provinsi Sumatera Selatan, Prof Yuwono, menyayangkan adanya kerumunan yang terjadi di beberapa tempat, apalagi di daerah zona merah. “Pimpinan Daerah bersama Forkopimda sudah menandatangani agar tidak ada kerumunan. Kalau ada kerumunan laporkan ke Polres. Apalag sudah ada Instruksi Presiden, Instruksi Kapolri, dan imbauan Gubernur Sumsel. Orang resepsi pernikahan dibubarkan, beberapa daerah orang di tempat ibadah dibubarkan. Kok aneh, malah di zona merah ada kerumunan, itu sangat kita sayangkan,” kata Yuwono.

Protes keras juga disampaikan Tokoh Wanita asal Kota Prabumulih, Selvi Tosima. “Sudah ada instruksi Kapolri, harus kita patuhi. Walau tujuannya baik, tapi kita tidak boleh berkumpul. Kita menghadap Allah SWT saja dilarang berkumpul, apolagi untuk hal seperti ini tidak perlu berkumpul,” kata Selvi.

Terkait  anak-anak Pramuka yang dikumpulkan, kata Selvi, cari cara agar tidak berkerumun. “Iya, penyemprotan disinfektan bagus, tapi harus disiasti agar tidak berkumpul, tidak berkerumun. Apalagi Kota Prabumulih ini sudah masuk zona merah, tolonglah kita pahami itu agar mata rantai Covid ini bisa diputus,” kata Selvi menegaskan.

Tokoh Pemuda Sumatera Selatan, Didi Efriadi, menyayangkan sikap Walikota Prabumulih yang terkesan tak mengindahkan instruksi Presiden RI Joko Widodo, Instruksi Kapolri, dan imbauan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, agar tidak mengumpulkan massa. “Waduh, kok terjadi lagi. Ini sangat kita sayangkan masih terjadi pengumpulan massa sehingga terjadi kerumunan. Padahal, Presiden, Kapolri, dan Gubernur sudah sangat tegas melarang kerumunan. Tidak ada negara dalam negara di Republik ini. Kita semua harus bersama-sama melawan Coronavirus Covid-19 ini, terutama pimpinan di Pemerintahan Daerah harus mengikuti Instruksi Pemerintah Pusat dan memberi contoh yang benar kepada warganya, bila ingin terbebas dari wabah ini,” kata Didi, yang juga Tokoh Pemuda Muhammadiyah itu bersuara keras. (asm/bbs)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *